FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI – Kecamatan Warungkiara mulai tancap gas. Tak lagi sekadar wilayah lintasan, daerah ini disiapkan menjadi destinasi wisata unggulan yang siap bersaing di Kabupaten Sukabumi.
Di bawah komando Camat Warungkiara, Toni Sugiharto, lahir sebuah konsep unik bertajuk “8 Desa, 8 Paket Wisata”, program ambisius yang menggabungkan kekuatan alam, sejarah, hingga ekonomi kreatif dalam satu tarikan napas.
“Wisata di Kecamatan Warungkiara itu program saya, yaitu paket wisata delapan desa, delapan program paket wisata,” kata Toni kepada wartawan, Jum’at (24/7/2026).
Program ini bukan sekadar wacana. Delapan paket wisata sudah dipetakan sebagai “senjata utama” untuk menarik wisatawan sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat hingga ke akar rumput.
Berikut delapan paket wisata yang disiapkan:
1. PLTA Ubrug
Destinasi wisata edukasi berbalut sejarah. Dibangun sejak zaman Belanda, kawasan ini menyimpan nilai historis tinggi sekaligus potensi wisata masa depan.
2. Budidaya Ikan Arwana & Ikan Dewa (Soro)
Warungkiara punya “harta karun hidup” ikan dewa atau soro, spesies langka yang dilindungi. Potensi ini dikemas menjadi wisata edukatif sekaligus konservasi.
3.. Damarraja Farm
Agrowisata modern dengan daya tarik perkebunan melon dan sayuran. Cocok untuk wisata keluarga sekaligus edukasi pertanian.
4. Gemstone Warungkiara
Batu mulia khas daerah yang ironisnya lebih dikenal luar negeri. Kini didorong menjadi identitas lokal dan daya tarik wisata kreatif.
5 Arung Jeram / Riam Jeram
Adrenalin jadi jualan. Riam Jeram Warungkiara bahkan disebut sebagai salah satu pelopor di Jawa Barat dan siap dihidupkan kembali sebagai ikon petualangan.
6. Situ Halimun
Destinasi alam yang disiapkan naik kelas, dengan rencana pengembangan menjadi bumi perkemahan skala besar.
7. Bukit Gantole (Paralayang)
Destinasi wisata dirgantara yang menawarkan keindahan panorama perbukitan Warungkiara dari ketinggian sekaligus menjadi pusat pelatihan atlet paralayang lokal.
8. Kampung Adat & Kuliner Tradisional
Ekowisata berbasis pelestarian budaya lokal, menyajikan pengalaman tinggal di rumah adat serta proses pembuatan kuliner khas berbahan pangan lokal.
Yang paling mencuri perhatian adalah rencana pengembangan Situ Halimun menjadi bumi perkemahan (buper) tingkat kabupaten. Toni menyebut, lokasi ini diproyeksikan mampu menampung hingga 15.000 siswa dalam satu kegiatan besar.
Rencana ini mendapat respons positif dari pelaku usaha mikro di wilayah tersebut. Ketua Paguyuban UMKM Warungkiara, Hendi Suhendar, menyatakan kesiapan para pedagang lokal untuk menyambut lonjakan wisatawan ini.
“Kami sangat menyambut baik program delapan paket wisata ini. Kapasitas 15.000 orang di Situ Halimun adalah pasar yang sangat besar bagi produk kerajinan dan kuliner rumahan kami. Kami siap meningkatkan kualitas produk agar bisa bersaing,” ujar Hendi saat diwawancarai terpisah.
Jika terealisasi, bukan hanya wisata yang terdongkrak, tapi juga ekonomi warga mulai dari UMKM, jasa, hingga sektor pendukung lainnya. Selama ini, beberapa potensi Warungkiara seperti gemstone dan arung jeram justru lebih dikenal di luar daerah. Melalui program ini, semuanya ingin “dipulangkan” menjadi kebanggaan lokal.
Lebih dari sekadar wisata, program ini dirancang sebagai mesin penggerak ekonomi desa. “Harapannya bisa mendongkrak perekonomian masyarakat, khususnya UMKM dan warga sekitar,” ungkap Toni.
Camat Warungkiara juga mengajak seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemuda, tokoh masyarakat, hingga alim ulama, untuk ikut mendukung. “Dengan berkembangnya pariwisata, mudah-mudahan infrastruktur juga ikut berkembang,” pungkasnya.
Dengan konsep “8 Desa, 8 Paket Wisata”, Warungkiara tak lagi diam. Kini, ia bersiap tampil menjadi destinasi, bukan sekadar perlintasan.
(*RAG)











