FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI – Rabu, 20 Mei 2026, kabut tipis yang menyelimuti Gunung Gede seolah menjadi saksi bisu atas sebuah refleksi besar di tanah Sukabumi. Seratus delapan belas tahun lalu, di Batavia, Boedi Oetomo menyalakan lilin kesadaran nasional. Hari ini, di era ketika algoritma digital mendikte isi kepala manusia, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Sukabumi memilih untuk menyalakan kembali api itu. Bukan dengan mengangkat senjata, melainkan dengan meneguhkan komitmen jurnalisme dan merajut kolaborasi yang kokoh demi kemajuan daerah.
Ketua PWI Kabupaten Sukabumi, Nuruddin Zain Syamsi, memandang Hari Kebangkitan Nasional kali ini sebagai sebuah garis batas yang tegas. Di tengah gempuran zaman, musuh yang dihadapi tidak lagi kasatmata. Mereka bersembunyi di balik layar gawai berupa hoaks yang terstruktur, disinformasi yang memecah belah, dan apatisme akut yang perlahan membunuh kepedulian publik. Menghadapi labirin digital ini, Jurnalis Sukabumi dituntut untuk tidak sekadar menjadi perekam peristiwa, melainkan benteng pertahanan nalar sehat masyarakat.
Menjaga marwah jurnalisme di tahun 2026 diakui bagaikan menggenggam bara api. Tekanan ekonomi media yang kian mencekik, derasnya arus linimasa media sosial yang menuntut kecepatan tanpa jeda, sering kali menjebak awak media dalam pragmatisme. Godaan untuk melacurkan integritas demi klik dan tayangan begitu nyata. Namun, di sinilah letak keteguhan itu diuji. PWI Kabupaten Sukabumi menegaskan komitmennya. Sekencang apa pun angin modernisasi menerpa, jangkar jurnalisme harus tetap tertanam kuat pada Kode Etik Jurnalistik.
Independensi, keberimbangan, dan keberpihakan pada suara rakyat adalah harga mati yang tidak boleh ditawar oleh lembaran rupiah maupun popularitas semu. Namun, keteguhan hati para jurnalis akan menjadi sia-sia jika mereka bergerak dalam kesunyian. Sadar bahwa membangun Sukabumi yang luas tidak bisa dilakukan secara parsial, PWI Kabupaten Sukabumi menawarkan sebuah konsep kebangkitan baru. Kolaborasi multipihak yang jujur. Pers lokal tidak lagi memposisikan diri sebagai pengamat yang berjarak dari menara gading, melainkan sebagai mitra strategis yang melekat pada urat nadi pembangunan daerah.
Kolaborasi ini mewujud dalam hubungan yang dinamis antara lima pilar utama (Pentahelix), yaitu Pemerintah, Masyarakat, akademisi, pelaku bisnis dan Pers itu sendiri.
Jurnalis Sukabumi siap mengambil peran yang elok, menjadi mitra kritis yang tidak segan melayangkan koreksi tajam saat kebijakan melenceng, namun di saat yang sama menjadi rekan konstruktif yang menyebarkan edukasi serta optimisme pembangunan. Ketika birokrasi membuka ruang informasi seluas-luasnya, masyarakat berpartisipasi aktif tanpa rasa takut, dan pers mengawal proses tersebut dengan pena yang jujur, maka simfoni kemajuan akan tercipta dengan indah.
Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi momentum krusial untuk menselaraskan kembali ritme kerja sama tersebut. Lewat keteguhan jurnalis yang menolak tunduk pada hoaks dan komitmen kolaborasi yang tanpa batas.
PWI Kabupaten Sukabumi optimis bahwa fajar kemajuan yang sejati akan segera terbit, membawa Kabupaten Sukabumi dan Indonesia melangkah mantap menuju masa depan yang lebih bermartabat.
(* Avhes/Red)











