FOKUSMEDIANEWS. COM, SUKABUMI (19/4/2026l) – Di balik riuh tepuk tangan di Stadion Surya Kancana, ada helaan napas lega yang panjang dari Angling Sagaran. Sang vokalis, yang wajahnya kini lebih sering muncul di balik layar sebagai sutradara film-film box office seperti From London to Bali, seolah baru saja menyelesaikan sebuah “syuting” paling personal dalam hidupnya.
Seusai perform pembuka di Terambyar Festq Sukabumi yang memukau dan mendapat apresiasi luar biasa dari penonton, Angling Sagara menyempatkan diri melayani wawancara dengan Fokusmedianews di tenda artis belakang stage utama.
“Panggung ini bukan soal teknis sound 200 ribu watt, tapi soal menuntaskan janji yang tertunda 24 tahun lalu,” ujar Angling dengan ramah.
Luka yang Menjadi Bahan Bakar
Bassist Magnet, Agha Alyasa, bercerita pada masa-masa mereka dikontrak label besar namun kasetnya tak pernah beredar. Walau demikian, Magnet bukan sekadar band baru yang ingin cari panggung. Mereka adalah penyintas industri musik era 2000-an.
“Dulu, kami sudah membayangkan wajah kami di rak-rak toko kaset. Tapi realitanya, kami cuma jadi penghias arsip gudang label,” ujar Agha. Rasa frustrasi itu puluhan tahun mereka pendam, hingga akhirnya meledak dalam album Melintasi Logika.
Lagu “Mati Dalam Pelukanmu”, menurut sang vokalis, Angling, adalah puncak dari rasa lelah mereka menjadi “korban PHP” industri musik. “Lagu itu adalah cara kami mengubur masa lalu yang pahit. Kami mati sebagai ‘Empire Band’ yang naif, dan lahir kembali sebagai ‘Magnet’ yang lebih sadar diri,” tambahnya.
Cinta Aing dan Identitas yang Pulang ke Rumah
Satu hal yang menarik dari comeback mereka adalah keberanian merilis single berbahasa Sunda, “Cinta Aing”. Di tengah tren pop-rock yang berkiblat ke barat (Muse), Magnet justru memilih pulang ke akar budaya mereka.
Menariknya, lagu ini lahir dari sinergi dua dunia Angling. Musik dan film. Sebagai sutradara sekaligus penulis film Sunda Emperor (2026), Angling merasa perlu memberikan nyawa lokal yang autentik.
“Di film Sunda Emperor, kita bicara soal identitas diri. Dan lagu ‘Cinta Aing’ adalah representasi itu. Kami ingin membuktikan bahwa bahasa daerah bisa terdengar megah di atas panggung besar, tanpa kehilangan esensi ambyarnya,” jelas Angling. Film yang dibintangi oleh aktor muda seperti Laura Moane ini kabarnya mengambil banyak latar di Sukabumi, menjadikan Magnet sebagai pengisi soundtrack yang paling tepat secara emosional.
Harapan Seperti Magnet
Bagi personel lainnya Ulfhan, Ilham, dan Ryan, Magnet adalah rumah tempat mereka kembali menjadi diri sendiri. Di tengah kesibukan masing-masing sebagai profesional di Sukabumi, band ini adalah ruang katarsis.
“Kami ingin seperti nama kami, Magnet. Tidak perlu mengejar orang, biarkan karya kami yang memiliki daya tarik untuk membawa mereka datang dan mendengarkan. Sukabumi punya talenta, dan kami hanyalah salah satu buktinya.” harap Agha sambil merapikan bassnya.
Perform Magnet di event Terambyar Fest Sukabumi meninggalkan energi, membekas dalam dan tetap terasa tertinggal di udara Stadion Surya Kancana. Sebuah frekuensi yang akhirnya mempertemukan kembali dengan pendengarnya setelah penantian yang sangat panjang. (Avhes)






