Breaking News

Ketika Dentuman Musik Modern Bertemu Jiwa Sunda di Panggung Terambyar Fest Sukabumi

Kreasi seni tradisional Sunda yang disajikan secara apik dan modern mewarnai Konser Terambyar Fest Sukabumi, Minggu (19/4/2026). Foto : Fokusmedianews.com

FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI (14 April 2026) – Di balik gemerlap lampu panggung dan dentuman musik Terambyar Fest Sukabumi yang menggetarkan Stadion Suryakancana, Minggu malam (19/4/2026), ada sebuah misi besar yang sedang dipertaruhkan. Kang Ahyar dari 27 Communication, sang konseptor, memikul beban untuk membuktikan bahwa seni tradisional Sunda bukan sekadar “pemanis”, melainkan ruh utama yang bisa bersanding sejajar dengan musik modern.

Skenario yang disusun rapi oleh Kang Ahyar sempat menemui tantangan besar: cuaca yang tak bersahabat. Langit Sukabumi terus meneteskan air, mengubah lapangan menjadi kubangan lumpur. Namun, di saat itulah sebuah keajaiban muncul. Alih-alih bubar, penonton justru tetap bergeming.

Baca Juga :   Konvoi Motor Diduga Menggangu Ketertiban Umum, 9 Remaja Digelandang ke Mapolres Sukabumi Kota

Asep Aris, seorang penggemar setia yang menempuh 76 km dari pelosok Cidolog, menjadi saksi bagaimana musik kontemporer Sunda mampu menghangatkan suasana yang dingin. Ia berdiri di atas tanah becek, terpana melihat bagaimana alat musik tradisional bersahutan dengan instrumen modern. Bagi Asep dan ribuan penonton lainnya, basah kuyup bukan lagi masalah saat “energi baru” musikalis itu mulai merasuki jiwa mereka.

Baca Juga :   Wawalkot Bogor Cek Penyaluran Bantuan Beras untuk Masyarakat, Pastikan Tepat Sasaran
Asep Aris (kanan-mengenakan topi laken) foto bersama dengan koleganya disela asyik menyaksikan Terambyar Fest Sukabumi Minggu Malam (19/4/2026).  Foto : Fokus Media News

“Walau hujan dan gerimis tak berhenti, nyatanya penonton tak bergeming. Semua bertahan sampai acara selesai, ini luar biasa,” ujar Asep Aris.

Ia berharap dalam perhelatan musik modern ke depan, kolaborasi dengan musik sunda ini terus diupayakan. “Semakin sering kita perkenalkan ke anak muda, maka seni sunda bisa tetap bertahan bahkan kembali diminati. Kalau seni tradisional sunda dikemas apik, seperti kita saksikan tadi sangat menarik, bahkan budaya dan seni sunda bisaa tampil lebih berkelas,” tambahnya.

Momen “pecah” di atas panggung bukan sekadar hasil latihan teknis, melainkan buah dari keyakinan bahwa kearifan lokal punya daya ledak yang dahsyat jika disentuh dengan kreativitas tanpa batas. Malam itu, Terambyar Fest bukan hanya soal bisnis industri kreatif yang menjanjikan, tapi tentang kemenangan identitas lokal di tengah gempuran tren masa kini.

Baca Juga :   Sambut HJB ke-543, PDBI Kota Bogor Gelar FOMB XXI

Warga Sukabumi pulang dengan sepatu penuh lumpur, namun hati mereka penuh kebanggaan. Budaya mereka baru saja “naik kelas” dengan cara yang paling terhormat: diapresiasi oleh ribuan anak muda di tengah guyuran hujan. (*/Nur)