FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI (19 April 2026) – Stadion Suryakancana berubah menjadi lautan manusia yang tak gentar diterjang rintik hujan, Sabtu (19/4/2026). Malam itu, dinginnya udara Sukabumi seolah kalah oleh energi ribuan penonton yang memadati gelaran Terambyar Fest Sukabumi. Sebuah pesta musik yang tidak hanya menjadi rangkaian perayaan HUT Kota Sukabumi ke-112, tapi juga bukti dahaga hiburan masyarakat yang luar biasa.
Setelah sesi pertama yang digelar pukul 13.30 WIB sampai mejelang maghrib, telah menampilkan sederet artis seperti Magnet Band, Mighty Finger, Perunggu Band, Tri Mas Koplo dan Asep Balon (Rapper sunda yang lagi naik daun). Dilanjutan sesi kedua, pukul 18.30 WIB hingga malam, dibuka dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, diikuti bersama seluruh penonton penuh kehidmatan.
Suasana pecah saat atraksi inovatif dari para seniman Sukabumi yang nemampilkan musik tradisional sunda yang dipadu manis dengan unsur musik modern. Kemasana apik yang skenarionya ditulis Kang Ahyar ini membuat penonton terhipnotis dan muncul energi baru musikalis. Seolah atraksi itu berbicara, budaya kearifan lokal tak kalah dahsyatnya jika dikemas tangan seniman kreatif.
Lepas itu, kini giliran Aldi Taher naik ke atas panggung. Dengan gaya nyentriknya, ia membawakan tiga lagu andalan yang langsung membuat penonton bernyanyi bersama. Namun, kejutan sesungguhnya muncul saat Bobby Maulana menyusul ke atas panggung.

Reuni kecil grup “Ubur-Ubur” ini menjadi istimewa karena Bobby bukan sekadar penghibur malam itu, melainkan Wakil Wali Kota Sukabumi yang sedang menyapa warganya melalui nada. Kehadirannya disambut histeris oleh kaum muda. Di barisan depan, Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki bersama jajaran kepala OPD pun tampak menikmati momen tersebut, melebur bersama rakyat di tengah rintik gerimis.
Setelah “kegilaan” Aldi Taher, suasana berubah menjadi lebih emosional sekaligus bertenaga saat For Revenge mengambil alih kendali. Moch Boniex Nurwega dan kawan-kawan sukses menghipnotis penonton lewat distorsi gitar dan lirik-lirik tajam seperti “Sadrah” dan “Penyangkalan”. Dingin malam seolah sirna berganti energi rock alternatif yang membara.
Pesta malam itu akhirnya mencapai puncaknya saat duo hip-hop asal Yogyakarta, NDX A.K.A, muncul sebagai penutup. Yonanda dan Fajar tidak hanya membawa lagu-lagu bertema cinta dan patah hati yang relate dengan anak muda, tapi juga membawa pesan inspirasi. Kisah sukses mereka yang merajai panggung musik nasional tanpa latar belakang pendidikan musik formal menjadi bumbu manis yang menutup malam dengan penuh kesan.

Bahan Bakar Ekosistem Ekonomi Kreatif
Gema instrumen malam itu tak lagi kita dengar, lighting panggung pertunjukan dipadamkan, karena setiap pesta ‘kodratnya‘ pasti berakhir. Namun alunan musik yang larut dalam udara Sukabumi dan menjadi resonansi yang ditinggalkan Terambyar Fest 2026 akan selalu membekas. Saat tim 27 Communications dan para vendor mulai melipat layar dan mengemas kabel menuju daerah asal, sebuah narasi baru justru baru saja dimulai bagi kota ini.
Lebih dari sekadar konser, event ini menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya energi anak muda Sukabumi yang berduyun-duyun memadati area festival. Kehadiran mereka bukan sekadar angka, melainkan pernyataan bahwa animo musik di Sukabumi adalah kekuatan yang nyata.
Terambyar Fest telah sukses melampaui fungsinya sebagai pelepas dahaga hiburan; ia telah menjelma menjadi ‘bahan bakar‘ bagi ekosistem ekonomi kreatif lokal. Kini, standar telah diletakkan, harapan telah dipupuk, dan Sukabumi siap menyongsong inovasi pertunjukan yang jauh lebih tinggi di masa depan.
(Red)











