Breaking News

Ketika Batas Generasi Melebur di Bawah Langit Dingin Sukabumi

Perhelatan Musik akbar Broken Versus Festival yang dipromotori Istana Production, Minggu (13/9/2026) di Stadion Suryakancana Kota Sukabumi. (Foto: fokusmedianews) 

Oleh: Avhes

Pada Minggu malam, 13 September 2026, Lapang Suryakencana tidak lagi sekadar menjadi sepetak lapangan hijau di jantung Kota Sukabumi. Malam itu, ia menjelma menjadi sebuah altar besar—sebuah ruang sakral tempat ribuan jiwa meleburkan sekat ego, jarak, dan generasi di bawah satu payung yang sama: musik.

Di bawah langit Sukabumi yang mendekap dingin, gelaran akbar Broken Versus Festival yang dimotori oleh Istana Production sukses menciptakan desiran ombak manusia. Sebuah lautan emosi yang arusnya mengalir deras, membawa penonton dari Bogor, Cianjur, Bandung, hingga sudut-sudut terdalam Sukabumi untuk menyatu dalam frekuensi yang sama.

Namun, di balik megahnya sorot lampu panggung dan dentuman bas yang menggetarkan dada, festival ini menyimpan magis yang jauh lebih dalam. Ini bukan lagi tentang seberapa banyak tiket yang habis terjual, melainkan tentang sebuah penghormatan, waktu yang diputar kembali, dan cinta yang menolak mati.

Baca Juga :   Forum RT RW Kota Sukabumi Kembali Gelar Aksi, Tuntut Transparansi dan Janji Wali Kota

Simfoni Masa Lalu yang Menolak Padam

Ketika riuh penonton mulai memadati area, panggung kehormatan justru diserahkan kepada mereka yang menolak dilupakan oleh zaman, tak lain MAGNET Band. Mereka adalah para pahlawan musik lokal, grup band pop kreatif legendaris asal Sukabumi yang telah menenun harmoni sejak era 90-an.

Malam itu, waktu seolah berhenti bergerak. Sang vokalis, Angling Sagara, melangkah tegas ke depan mikrofon. Melalui suaranya yang matang oleh waktu, ia memanggil kembali memori kolektif masa lalu lewat tembang-tembang ikonis seperti Toni dan Ernin, Matahariku, Lebih Baik Tanpamu, hingga Penantian Bodoh.

Puncaknya adalah saat melodi lagu Cinta Aing (Cinta Ku) mengalun. Lagu yang juga menjadi lagu tema (soundtrack) dari film yang disutradarai langsung oleh Angling ini, dinyanyikan serempak oleh ribuan penonton dengan penuh penghayatan. Bahasa lokal yang lugas namun jujur itu merasuk ke dalam dada setiap orang yang hadir. Ada rasa haru yang membubung tinggi—sebuah pembuktian telak bahwa taring sang legenda belum tumpul, dan sejarah musik lokal Sukabumi akan selalu memiliki tempat terhormat di tanahnya sendiri.

Baca Juga :   Wali Kota dan Wakil Wali Kota Sukabumi Laksanakan Shalat Ied di Lapang Merdeka

Dedikasi total pun terpancar nyata dari sang bassist, Rangga. Tidak hanya menjaga ritme di atas panggung dengan jemarinya, Rangga mengawal jalannya festival dari awal hingga akhir sebagai announcer. Ia menjadi “suara” yang menuntun ribuan manusia menikmati malam, merajut emosi penonton dari satu penampil ke penampil berikutnya tanpa lelah.

Jembatan yang Menjahit Dua Generasi

Mengusung konsep mulia “Masa Lalu dan Masa Kini”, Broken Versus Festival berhasil menjahit robekan generasi. Panggung ini mempertemukan Radja, band legendaris tanah air yang lagu-lagunya seperti Jujur sempat menghiasi masa muda generasi bapak-ibu, dengan Juicy Luicy, raksasa musik pop masa kini yang lirik galaunya merajai hati generasi Z dan milenial.

Baca Juga :   Sambut Imlek 2576 Kongzili, Vihara Widhi Sakti Kota Sukabumi Gelar Kegiatan Sosial

Di bawah temaram lampu panggung, sebuah pemandangan luar biasa tersaji. Terlihat ayah dan anak, remaja, hingga mereka yang berambut perak, berdiri berdampingan. Mereka menyatu dan bernyanyi bersama dengan energi yang sama besarnya. Melodi Radja memanggil pulang kenangan lama dengan euforia nostalgia yang magis, sementara untaian lirik Juicy Luicy memeluk erat luka-luka masa kini.

Melihat ribuan orang dari latar belakang dan daerah yang berbeda berkumpul dalam damai memicu rasa haru yang menyesakkan dada, sekaligus memercikkan optimisme yang cerah. Di tengah dunia yang kerap terkotak-kotak, musik membuktikan keajaibannya sekali lagi.

Malam itu, Sukabumi bukan sekadar menjadi tuan rumah bagi sebuah konser musik. Sukabumi telah menjadi sebuah rumah yang hangat—tempat di mana persaudaraan tumbuh tanpa sekat, tempat di mana masa lalu dan masa kini berpelukan erat, semuanya larut dalam keindahan seni musik yang abadi. (*/avhes)