Breaking News
Ragam  

Kisah Getir Pak Mohan: 25 Tahun Bertaruh Nasib Tanpa Tempat Pulang

Pak Mohan, pedagang keliling saat ditemui di pinggir Jalan Alternatif Nagrak-Cibadak, Sukabumi.(Foto: Rudi)

FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI – Matahari siang menusuk kulit, tapi langkah Pak Mohan tak berhenti. Di pinggir Jalan Alternatif Nagrak-Cibadak, Sukabumi, di atas karung putih kusam, tersusun rapi dagangannya. Tidak banyak. Tapi itulah satu-satunya cara pria berusia 60 tahun ini untuk bertahan hidup. Bagi warga yang melintas setiap hari, sosoknya sudah sangat akrab – selalu tersenyum dan menyapa ramah. Namun, di balik keramahan itu, tersimpan kisah pilu tentang perjuangan seperempat abad yang tak pernah menemui kata lega.

Pak Mohan adalah seorang pedagang keliling sejati. Apa saja yang bisa mendatangkan rupiah, akan ia jual. Di tengah situasi ekonomi yang kian menjepit, kamus hidupnya tidak mengenal kata istirahat.”Saya sudah dagang di Sukabumi sejak muda. Dulu masih lumayan. Sekarang, buat makan sehari-hari saja susah,” katanya pelan dengan suara tercekat.

Baca Juga :   Bupati Sukabumi Terima Kunjungan Komandan Lanud Atang Sandjaja Bogor

“Di tengah ekonomi yang susah begini, saya nggak bisa berhenti. Kalau berhenti, nggak makan.” tambahnya.

Ketika lansia seusianya sudah duduk bersantai di teras rumah bersama cucu, Pak Mohan justru harus berjalan menyusuri aspal dari pagi hingga malam hari. Kakinya sudah letih dan badannya tak lagi sekuat dulu. Namun, menyerah adalah kemewahan yang tidak bisa ia beli.

Badai hidup Pak Mohan tidak hanya seputar isi perut. Tujuh tahun lalu, pernikahan yang sudah ia bina selama 15 tahun kandas akibat tekanan ekonomi. Perpisahan itu merenggut segalanya; ia kehilangan keluarga sekaligus tempat beralun. Sejak saat itu, Pak Mohan menumpang di tempat tinggal seorang rekan sesama pedagang.

Baca Juga :   Paguyuban UKM Desa Pasirhalang Kecamatan Sukaraja Gelar Raker, Bahas Inovasi dan Daya Saing Produk

“Alhamdulillah masih ada teman yang mau menampung. Kalau ngontrak, saya nggak sanggup,” ucapnya sambil menunduk lesu.

Ironisnya, di tengah kondisi yang serba kekurangan, uluran tangan dari pemerintah belum pernah sekalipun mampir membantu kesulitan ekonominya. Pak Mohan seolah menjadi sosok tak terlihat yang luput dari pendataan bantuan sosial, membuat hidupnya kian terasing di garis kemiskinan.

Pak Mohan saat menjajakan dagangannya di pinggir Jalan Alternatif Nagrak-Cibadak, Sukabumi. (foto: Rudi)

Tiga Keinginan Sederhana di Sisa Usia

Saat ditanya mengenai impiannya, tidak ada ambisi besar yang keluar dari mulut Pak Mohan. Ia hanya mendambakan tiga hal dasar untuk menyambung sisa hidupnya dengan layak: Modal usaha untuk mengembangkan dagangannya, memiliki rumah sendiri untuk berteduh dan jaminan kesehatan sebagai pelindung saat tubuh tuanya mulai ambruk sakit.

Baca Juga :   Program Rehabilitasi Sosial Bagi WBP, Kalapas Warungkiara : Bentuk Komitmen Perangi Narkoba

“Saya sudah tua. Nggak minta muluk-muluk. Cuma ingin hidup tenang di akhir usia, punya tempat pulang yang bener,” tuturnya penuh harap.

Kisah Pak Mohan adalah cermin retak dari realitas sosial kita. Di luar sana, ada ribuan lansia yang terpaksa tangguh karena keadaan. Mereka sering kita puji sebagai sosok yang kuat, padahal kenyataannya, mereka hanya tidak memiliki pilihan lain untuk bertahan hidup. (**)