FOKUSMEDIANEWS.COM. SUKABUMI – Aroma kopi menyeruak di antara riuh rendah tawa sore itu. C’Kopi Gaud, sudut legendaris di Sukabumi, kembali menjadi saksi bisu sebuah diskusi yang mengalir tanpa sekat. Di meja kayu yang bersahaja, berkumpul empat pemikir lokal: Kang Avhes (tokoh pers dan entrepreneur kopi), Aam Abdul Salam (Penasihat SMSI dan PWI Kabupaten Sukabumi), Dede Heri (Sekjen Rumah Literasi Merah Putih), dan Siti Ratna Maymunah (CEO Wartain.com), pada Rabu (13/05/2026).
Obrolan bergulir santai, namun tajam membedah realitas. Di luar sana, konflik global sedang mencabik rantai pasok dunia. Dampak ekonominya nyata, berbisik mengancam hingga ke meja-meja makan warga Sukabumi.
Kita tidak bisa menghentikan perang di luar sana, tapi kita bisa memperkuat benteng di rumah sendiri,” tutur Kang Avhes sembari menuangkan kopi. Sebagai penggerak UMKM, ia paham betul bahwa sektor domestik adalah katup penyelamat ekonomi.
Aam Abdul Salam mengamini hal tersebut dari kacamata media. UMKM Sukabumi harus dipersenjatai dengan ketahanan informasi dan adaptasi pasar agar tidak tumbang saat krisis datang. Strateginya jelas: perkuat akar rumput, mandirikan ekonomi lokal.
Bagaimana cara Sukabumi bertahan ? Jawabannya ada pada potensi alam dan budayanya. Pariwisata harus menjadi lokomotif yang menarik gerbong UMKM di belakangnya.
- Magnet Wisata: Destinasi alam Sukabumi adalah pasar potensial yang nyata.
- Multiplier Effect: Wisatawan yang datang tidak hanya membeli pemandangan, tapi juga kuliner, kerajinan, dan jasa lokal.
- Kontribusi APBD: Geliat ini otomatis mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD).
- Pembangunan Daerah: PAD yang sehat akan membiayai infrastruktur berkelanjutan di Kota dan Kabupaten Sukabumi.
Sementara Siti Ratna Maymunah menekankan pentingnya narasi digital. “Media harus menjadi jembatan yang mengenalkan keindahan Sukabumi sekaligus produk-produk kreatifnya ke kancah yang lebih luas,” tegasnya.

Menangkap peluang emas ini tidak bisa dilakukan dengan bekerja sendiri-sendiri. Dede Heri dari Rumah Literasi Merah Putih menyoroti pentingnya kolaborasi pentahelix yaitu :
- Pemerintah Daerah: Pemkab dan Pemkot Sukabumi wajib menyediakan regulasi yang ramah dan infrastruktur yang mendukung.
- Masyarakat & Komunitas: Menjadi tuan rumah yang ramah dan kreatif dalam menyambut ceruk pasar baru.
- Pelaku Usaha & Media: Saling mendukung dalam promosi dan distribusi produk lokal.
- Literasi, Kopi, dan Masa Depan Anak Muda Sukabumi*
Diskusi sore itu perlahan mengerucut pada sosok Kang Avhes. Lewat racikan kopi di C’KOPI GAUD, ia tidak sekadar berbisnis. Ia sedang merawat sebuah gerakan literasi dan regenerasi. Melalui tulisan jurnalistiknya yang tajam, ia terus menyuarakan optimisme lokal.
Lebih dari itu, ruang santai ini menjadi kawah candradimuka bagi anak-anak muda Sukabumi. Kang Avhes dengan sabar membina, memberikan motivasi, dan menularkan ilmu kewirausahaan kepada para perintis usaha kopi muda. Di tangan anak-anak muda inilah, masa depan ekonomi kreatif Sukabumi digantungkan.
Matahari mulai tenggelam di ufuk Sukabumi, menyisakan cangkir-cangkir kopi yang mulai kosong. Namun, ide yang lahir dari C’KOPI GAUD sore itu tetap menyala.
Sukabumi punya modal besar, alam yang indah, kopi yang nikmat, dan manusia-manusia yang menolak menyerah pada krisis global. (*)









