FOKUSMEDIANEWS.COM – Malam itu, lampu-lampu di Hotel Marriott, Sleman, Yogyakarta, berpijar lebih terang bagi masyarakat Kota Sukabumi. Di tengah riuh tepuk tangan perwakilan daerah se-Jawa dan Bali, Wali Kota Sukabumi, H. Ayep Zaki, melangkah pasti menuju panggung. Sebuah piagam penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri berada di tangannya. Malam Kamis, 4 Juni 2026, menjadi saksi saat Sukabumi dinobatkan sebagai salah satu daerah terbaik dalam mengendalikan badai inflasi.
Di balik plakat penghargaan Regional Jawa-Bali itu, ada cerita tentang perjuangan harian yang tidak mudah. Mengendalikan inflasi bukan sekadar angka-angka di atas kertas laporan dinas. Bagi warga Sukabumi, ini adalah tentang kepastian bahwa harga beras tidak mencekik leher, minyak goreng tetap terjangkau, dan cabai tidak berubah menjadi barang mewah di pasar-pasar tradisional.
Keberhasilan Sukabumi mengamankan posisi Terbaik II—berdampingan dengan Cirebon di posisi pertama dan Probolinggo di posisi ketiga—adalah buah dari kerja sunyi yang konsisten. Setiap subuh, saat kota masih terlelap, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah bergerak memantau pergerakan harga pokok. Ketika pasokan tersendat, operasi pasar segera digelar dan jalur distribusi dipotong agar barang sampai ke tangan warga tanpa harga yang melambung.
Bagi Ayep Zaki, panggung penghargaan di Yogyakarta malam itu bukanlah akhir dari perjalanan. Ia melihat trofi tersebut dengan kacamata yang membumi. Menurutnya, penghargaan hanyalah bonus atau konsekuensi dari kerja keras yang nyata. Inti dari semua pergerakan ini adalah daya beli masyarakat yang terjaga dan dapur warga yang tetap mengepul.
Optimisme baru kini sedang ditiupkan ke sudut-sudut Kota Sukabumi. Pengendalian harga terbukti menjadi fondasi penting untuk membenahi urusan perut dan kesejahteraan yang lebih luas. Dengan inflasi yang jinak, pemerintah kota kini punya ruang lebih besar untuk bertarung melawan musuh-musuh sosial lainnya: menurunkan angka pengangguran, mengejar target penanganan stunting, hingga menghapus kemiskinan ekstrem.
Piagam dari Kemendagri itu kini telah dibawa pulang ke Sukabumi. Ia akan dipajang sebagai pengingat bahwa sebuah kota kecil di Jawa Barat mampu berdiri sejajar dengan daerah-daerah hebat lainnya. Namun yang lebih penting, penghargaan itu menjadi bahan bakar bagi seluruh jajaran pemerintah kota untuk terus hadir, responsif, dan memastikan bahwa kesejahteraan bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan di setiap meja makan warganya. (*)











