FOKUSMEDIANEWS.COM, DEPOK – Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat, Dr. H. Aat Surya Safaat menegaskan, dengan perkembangan informasi teknologi yang cukup cepat, para wartawan harus memanfaatkan secara positif keberadaan media sosial (medsos) untuk pengembangan media pers.
“Wartawan harus bisa memanfaatkan beberapa kelebihan medsos. Kita dapat menggunakan medsos sebagai sarana corporate branding. Jadi antara media siber dengan medsos bukan soal kalah-menang,” tutur Aat Surya Safaat, dalam Diskusi Wartawan, di Kantor PWI Kota Depok, Jalan Melati Raya No. 3, Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, Kamis (04/06/2026).
Diskusi Wartawan yang digelar oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Depok itu mengusung tema “Kompetensi Wartawan: Media Siber versus Medsos, Siapa Menang?”. Menghadirkan Narasumber Direktur UKW PWI Pusat Dr. H. Aat Surya Safaat dan Ketua PWI Kota Depok, Rusdy Nurdiansyah dan moderator Ridwan Ewako.
Menurut Aat Surya Safaat, akses informasi saat ini tidak lagi dimonopoli oleh institusi pers utama saja. Hari ini siapapun dapat memiliki situs web (website) berita secara mudah, dan kemudian menyebut dirinya wartawan. Bahkan sekarang siapapun bisa menjadi penyebar informasi melalui medsos yang dikenal dengan Citizen journalism (jurnalisme warga).
“Apakah kita mampu bertahan ditengah gempuran medsos ini? Tergantung media atau wartawannya sendiri,” ungkap mantan Direktur Pemberitaan/Pemred LKBN ANTARA.
Aat menambahkan, di era disrupsi media tidak mungkin masyarakat pers “memusuhi” medsos. Justru wartawan perlu memanfaatkan platform medsos guna mengembangkan media masing-masing.
Dalam situasi demikian, Ia menekankan pentingnya wartawan memiliki kompetensi, untuk memastikan setiap informasi yang dihasilkan akurat, bertanggung jawab dan memiliki kemampuan menghadapi gempuran media sosial.
“Bagaimana menghadapi dominasi medsos sekarang? Ya, seluruh wartawan wajib kompeten, karena wartawan berbeda dengan pelaku medsos. Maka disinilah dibutuhkan UKW (Uji Kompetensi Wartawan),” ungkap mantan Kepala Biro LKBN ANTARA di New York, Amerika Serikat itu. (**)











