Breaking News

Menbud RI Tetapkan Boles Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Tingkat Nasional

Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Fadli Zon mencoba permainan Bola Leuseun Seuneu (Boles) di Ponpes Dzikir Al-Fath Kota Sukabumi. (Foto : Ist)

FOKUSMEDIANEWS.COM, KOTA SUKABUMI – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia (RI), Fadli Zon menetapkan permainan Bola Leungeun Seneu (Boles) sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tingkat Nasional. Penetapan itu dilaksanakan saat Menbud Fadli Zon melakukan kunjunga kerja ke Kota Sukabumi, dengan agenda diantranya menghadiri Festival Main Bola Leungeun Seneu (Boles) di Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunung Puyuh, Kota Sukabumi, Rabu (29/1/2025).

“Ya itu menarik dan itu ada tekniknya, dan saya kira ini juga tentu dengan satu pengamanan teknik memainkan bola api. Itu bisa kita gunakan sebagai sarana olahraga yang unik dan khas dan itu hanya ada di Indonesia saya kira,” ujar Fadli Zon usai menyerahkan piagam penetapan boles sebagai WBTB Tingkat Nasional dan mencoba permainan tersebut.

Menurutnya, ini (boles) merupakan kearifan lokal yang sangat unik dan khas, tentu perlu ada pengembangan dan juga pemanfaatannya.

Baca Juga :   BIA 2024 Resmi Ditutup, 'Kota Sains dan Kreatif ' Identitas Baru Kota Bogor

Sementara ditempat yang sama, pendiri Museum Prabu Siliwangi sekaligus pimpinan Ponpes Dzikir Al Fath, KH Fajar Laksana menyampaikan rasa syukurnya karena karya cipta Ponpes Dzikir Al Fath berupa kesenian boles telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBT) Tingkat Nasional.

“Pak menteri memberikan secara langsung piagam penghargaan main Bola Leungeun Seneu ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda tingkat nasional langsung oleh Pak Menteri kepada saya yang pertama kali menggagas maen Boles. Kita bersyukur karya cipta kita diakui diterima di tingkat nasional untuk bisa dikembangkan dipelihara dan dijaga,” ujarnya.

Kedatangan Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon juga dalam rangka apresiasi karena Ponpes Dzikir Al Fath menjadi juara satu dalam bidang potensi seni budaya dan menjadi objek wisata ramah muslim tingkat Jawa Barat.

“Kedatangan Pak Menteri ini dalam rangka kunjungan ke pondok pesantren. Di mana Pondok Pesantren Dzikir Al Fath ini adalah salah satu pondok pesantren yang pada tahun 2024 menjadi pesantren juara pertama di bidang potensi seni dan budaya di tingkat Jawa Barat dan pesantren kami juga pondok pesantren terbaik di bidang objek wisata ramah muslim sehingga pak Menteri pun berkenan hadir,” pungkasnya.

Baca Juga :   Pemkot Bogor Gelar Rakor Sinkronisasi Percepat Penyerahan PSU

Dengan adanya Kementerian Kebudayaan, dia berharap, kebudayaan mendapatkan lebih banyak perhatian dari pemerintah.

“Karena beliau Kementerian Kebudayaan pertama. Makanya mungkin program-programnya itu perlu masukan dari kita semua dan saya sudah memberikan banyak masukan sebetulnya budaya ini adalah produk dari pada hasil budi daya karsa cipta manusia. Jadi budaya ini sebetulnya hal paling pokok karena dari budaya lahir pendidikan, lahir tentang kehidupan berpolitik, bernegara, berbangsa dan seterusnya itu adalah hasil produknya,” jelasnya Fajar Laksana.

Kunjungi Museum Prabu Siliwangi

Dalam kunjungan itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga mengunjungi Museum Prabu Siliwangi yang ada di Komplek Pondok pesantren Dzikir Al-fath. Ia mengapresiasi Museum yang memiliki ribuan koleksi benda didalamnya, seperti artefak, arca, batu-batuan, logam, hingga benda sejarah islam.

Baca Juga :   CHANDI 2025, Perkuat Visi Bersama Jadikan Budaya sebagai Alat Perdamaian dan Kesejahteraan

“Saya apresiasi sekali ekpresi-ekspresi budaya itu dipelihara dengan baik. Begitu pun juga dengan museum yang mempunyai sejumlah artefak menjadi tempat untuk pembelajaran bagi para santri maupun masyarakat lainnya,” tuturnya.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon (kanan) saat mengunjungi Museum Prabu Siliwangi (Foto : Istimewa)

Menteri Kebudayaan berharap, pesantren-pesantren lain yang ada di Indonesia dapat melestarikan dan mengembangkan budaya di daerahnya masing-masing. “Kita berharap pesantren-pesantren juga lebih banyak mengembangkan budaya terutama yang sesuai dengan budaya du daerah masing-masing atau kearifan lokal masing-masing,” ungkapnya.

“Kemajuan kebudayaan ini menjadi tugas semua orang semua orang mau pemerintah swasta, perirangan termasuk pesantren atau sekolah-sekolah dan masyarakat. Kita berharap ini bisa menjadi inspirasi semua kebudayaan yang ada di sini bisa menjadi inspirasi bagi pesantren-pesantren lain,” cetusnya. (**A2B)