Breaking News

World Bank Gelar Diskusi Terbuka, Undang Pemkot Bogor

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah, menyampaikan pemaparan pada forum diskusi terbuka berkaitan pengembangan serta evaluasi mengenai desentralisasi keuangan publik yang diprakarsasi oleh Bank Dunia. (Foto : Diskominfo Kota Bogor)

FOKUSMEDIANEWS.COM, KOTA BOGOR – World Bank atau Bank Dunia menggelar forum diskusi terbuka untuk membedah kajian dan pengembangan serta evaluasi mengenai desentralisasi keuangan publik, baik di pemerintah pusat maupun daerah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu (5/6/2024) pagi, bertempat di Park Hyatt Jakarta.

Dalam diskusi terbuka itu juga hadir dari instansi pemerintah pusat seperti Kemenkeu, Kemendagri dan Bappenas, termasuk  Pemerintah Kota Bogor. Dimana, Pemkot Bogor merupakan satu-satunya perwakilan pemerintah daerah yang diundang, dan diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah.

Baca Juga :   Wabup Sukabumi : Pemda Mendorong Terciptanya Petani Milenial, Kembangkan Sektor Pertanian

Usai diskusi, Syarifah mengatakan bahwa Kota Bogor diundang untuk memberikan masukan terkait dengan evaluasi yang dilakukan World Bank. Dari mulai permasalahan desentralisasi, otonomi daerah dan evaluasi pada penganggaran-penganggaran.

“Semisal ada beberapa plafon anggaran yang sifatnya wajib. Seperti pendidikan sebesar 20 persen dan kesehatan 10 persen. Itu dievaluasi karena di setiap daerah kebutuhannya berbeda. Di Indonesia ada 512 kabupaten/kota, kinerjanya berbeda-beda,” kata Syarifah.

Baca Juga :   Polri dan Dewan Pers Sosialiasi Perlindungan Kemerdekaan Pers
Forum diskusi terbuka yang diprakarsasi Bank Dunia, membedah kajian dan pengembangan serta evaluasi mengenai desentralisasi keuangan publik, baik di pemerintah pusat maupun daerah. (Foto : Diskominfo Kota Bogor)

Sebagai perwakilan pemerintah daerah, kata Syarifah, bahwa pematokan persentase itu harusnya disesuaikan dengan kondisi daerahnya masing-masing. Atau mungkin juga bisa dilihat dari pendekatan kinerjanya.

“Jadi kalau daerah punya persoalan pengangguran atau kemiskinan mungkin itu yang dibesarkan. Ada klaster, tidak disamakan satu Indonesia itu plafonnya sekian. Tapi ada klaster sesuai dengan kemampuan, potensi dan permasalahannya,” jelas Syarifah.

Sekda mencontohkan untuk wilayah perkotaan seperti Kota Bogor. Selain pendidikan dan kesehatan juga ada masalah transportasi, persampahan, hingga sanitasi. Permasalahan tersebut yang kemudian harusnya bisa dioptimalkan dalam penyusunan anggaran oleh World Bank, Kementerian Keuangan, Kementerian Dalam Negeri dan Bappenas sebagai bahan kebijakan.

Baca Juga :   DKPP Kota Bogor Edukasi Gizi Seimbang Lewat Lomba Cipta Menu B2SA

“Untuk itu mengapa Kota Bogor diundang, kita beri masukan supaya ada clustering melihat dari kinerja untuk menentukan nanti berapa persen dari DAU (Dana Alokasi Umum) itu yang diturunkan ke daerah-daerah,” katanya. (*rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *