Breaking News

Mengangkat Kembali Tradisi Leluhur, Warga Lembur Sawah Kota Bogor Gelar Sidekah Bumi

Prosesi Sidekah Bumi Lembur Sawah dan Festival Jajanan Lembur di Kampung Lembur Sawah, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, (Foto : Dokumentasi Diskominfosan Kota Bogor)

FOKUSMEDIANEWS.COM, KOTA BOGOR – Sidekah Bumi Lembur Sawah dan Festival Jajanan Lembur kembali digelar oleh warga Lembur Sawah, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor, Minggu (7/7/2024).

Sidekah Bumi ini merupakan tradisi masyarakat di Lembur Sawah sejak puluhan tahun lalu, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan hasil panen yang melimpah ruah.

“Sampurasun, mangga kalebet, linggih,” sapa seorang perempuan mengenakan kebaya saat wisatawan berdatangan, untuk melihat prosesi Sidekah Bumi Lembur Sawah dan Festival Jajanan Lembur.

Rangkaian prosesi ini berlangsung di tengah sejuknya udara pagi yang mengalir di antara pepohonan besar, membuat Lembur Sawah terasa asri lagi mempesona.

Warga setempat kompak menggunakan pakaian adat sunda, membawa dongdang-dongdang (alat pikul dari bambu berbentuk segi empat seperti tempat tidur) yang berisi hasil bumi, dibawa oleh setiap warga dari masing-masing RT dan RW, disusun memanjang, kemudian diarak ke depan pintu masuk dan dibagikan kepada warga secara gratis.

Baca Juga :   Sekda Lantik 30 Pengurus Forum Anak Kota Bogor Periode 2024-2026
Sekda Kota Bogor, Syarifah Sofiah saat menghadiri prosesi Sidekah Bumi di Kampung Lembur sawah, Kelurahan Mulyaharja, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.  (Foto : Dokumentasi Diskominfosan Kota Bogor)

Sebelum dimulai, lebih dahulu dilakukan prosesi doa bersama serta tradisi kesenian. Selanjutnya, dongdang diarak, didahului oleh pikulan selongsong bambu berisi air yang di bawahnya digantungkan padi hasil pertanian warga.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bogor, Syarifah Sofiah yang hadir menyaksikan prosesi Sidekah Bumi ini mengapresiasi para anak muda Lembur Sawah yang mau bergerak menghidupkan kembali tradisi kebudayaan yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu.

“Ada tiga hal yang terpenting kenapa Sidekah Bumi ini harus dilestarikan. Pertama sebagai simbol rasa syukur kepada sang pencipta, kedua pengembangan potensi wisata, ketiga, adalah mewariskan tradisi kebudayaan kepada generasi penerus untuk bisa terus dilestarikan,” kata Syarifah.

Baca Juga :   Dedie Rachim Tekankan Pentingnya Terobosan Gali Potensi Pendapatan

Kegiatan ini, juga dikembangkan sebagai daya tarik wisata dengan adanya Festival Jajanan Lembur yang dibalut dengan konsep jual beli masa lampau dengan transaksi menggunakan uang koin
berbahan batok kelapa.

Warga membawa sejumlah dongdang yang berisi hasil bumi pada prosesi Sidekah Bumi Lembur Sawah (Foto : Dokumentasi Diskominfosan Kota Bogor)

Ketua Panitia Pelaksana, Riri Siti Nur Fazriah mengatakan, Lembur Sawah yang sering dianggap tidak memiliki kehidupan karena berada di pinggiran kota, kini menjadi kampung wisata yang memiliki potensi dan daya tarik bagi wisatawan sehingga bisa dikenal di seluruh pelosok Kota Bogor dan luar Kota Bogor.

“Dengan ini bisa terbukti bahwa ternyata kita di sini berkehidupan dan berkembang baik dari sisi pertanian maupun UMKM dan pengembangan wisata,” ujarnya.

Baca Juga :   Kumpulkan Sekdis, Sekda Kota Bogor Minta Tingkatkan Sosialisasi Pamong Walagri

Selain menjadi daya tarik wisatawan lokal, Sidekah Bumi ini juga menjadi daya tarik turis asal mancanegara. Terlihat beberapa turis asing asyik mendokumentasikan prosesi Sidekah bumi sejak awal hingga akhir. Mereka membeli dan mencoba beberapa jajanan lembur.

Sekda Kota Bogor, Syarifah Sofiah (Kanan) saat menghadiri Sidekah Bumi Lembur Sawah dan Festival Jajan Lembur.  (Foto : Dokumentasi Diskominfosan Kota Bogor)

Sebagai informasi, sejak 30 tahun lalu prosesi Sidekah Bumi berhenti dan menghilang. Data tersebut terungkap ketika adanya kegiatan mahasiswa dari Universitas Pancasila yang melakukan kegiatan riset dan observasi di Lembur Sawah beberapa tahun lalu.

Kemudian, muncul inisiasi dari para kaum muda bersama kokolot kasepuhan, serta pelaku seni budaya yang kemudian didukung oleh masyarakat dan dibantu kolaborasi dengan Pemerintah kota (Pemkot), para sponsor, asosiasi, akademisi dan sebagainya kembali menghidupkan Sidekah Bumi. (**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *