Breaking News

Lili Sunarya Pengrajin Bambu Warga Kecamatan Gegerbitung Sukabumi, Buktikan Bambu Punya Nilai Ekonomi Tinggi

Lili Sunarya, warga Kampung Babakan Ranca Bungur RT 10/ RW 02, Desa Cijurey, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi (kiri) pengrajin yang menggunakan bahan baku bambu. (foto: Fokus Media News/AW)

FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI – Potensi alam yang melimpah kerap menjadi sumber inspirasi lahirnya ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Seperti yang dilakukan Lili Sunarya, warga Kampung Babakan Ranca Bungur RT 10/ RW 02, Desa Cijurey, Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, yang menyulap bahan baku bambu menjadi kaligrafi seni, gitar bambu, miniatur kapal, hingga berbagai produk kerajinan  lainnya.

Berbekal ketekunan dan kemampuan otodidak, Lili mampu membuktikan bambu tidak hanya identik sebagai bahan bangunan tradisional, tetapi memiliki prospek ekonomi tinggi. Diantaranya, dengan seni bernilai estetika tinggi sekaligus bernilai ekonomi.

“Kalau dari keluarga sebenarnya tidak ada yang menekuni kerajinan seperti ini. Saya belajar sendiri, otodidak. Kurang lebih sudah hampir lima tahun saya menekuni kerajinan bambu,” ungkap Lili saat ditemui pada Gebyar UMKM menyambut Milad ke-9 Masjid Baiturrahman, Minggu (18/01/2026).

Baca Juga :   Universitas Teknologi Nusantara Maknai Bulan Ramadan: Saling Peduli dan Berbagi

Sebelum fokus pada kerajinan bambu, Lili mengaku sempat bekerja hampir 15 tahun di perusahaan gitar. Pengalaman itulah yang kemudian menjadi bekal saat ia mulai bereksperimen membuat gitar berbahan dasar bambu. Berawal dari sekadar mencoba, hingga akhirnya satu karya terjual dan membuatnya semakin mantap menekuni usaha.

“Awalnya bukan bikin kaligrafi seperti sekarang. Saya lihat-lihat di media sosial, lalu coba-coba terus sampai bisa. Begitu satu produk terjual, rasanya ketagihan, sampai akhirnya saya memutuskan berhenti kerja dan fokus di sini,” tuturnya.

Dalam proses produksi, Lili menggunakan bambu Gombong dan bambu Bitung yang dikenal kuat dan berkualitas. Seluruh pengerjaan dilakukan secara manual di rumah, dengan peralatan sederhana tanpa mesin berat. Untuk satu unit gitar bambu, ia membutuhkan waktu hingga satu bulan pengerjaan.

Baca Juga :   Peletakan Batu Pertama Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih, Dandim 0607/KS: Sinergitas TNI bersama Pemerintah Wujudkan Cita-Cita Indonesia Emas

“Karena semuanya manual, satu gitar bisa sebulan. Harganya bisa tembus Rp2 juta lengkap dengan amplifier, sedangkan tanpa amplifier sekitar Rp1,5 juta,” jelasnya.

Produk gitar bambu karya Lili bahkan telah menembus pasar luar daerah, seperti Sukoharjo dan Yogyakarta. Ia juga sempat mendapat tawaran produksi di Bali, namun belum dapat dipenuhi karena kesibukannya di kampung.

Dari sisi legalitas usaha, Lili menyampaikan dirinya telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan perizinan lainnya melalui dukungan Dinas Koperasi dan UKM (DKUKM). Namun, kendala utama yang dihadapi adalah keterbatasan peralatan produksi.

Baca Juga :   Sekda Kab Sukabumi Hadiri Rakor Forum Kemitraan Pengelola Kerjasama Fasilitas Kesehatan Tahun 2025

“Peralatan produksi masih sangat sederhana. Pernah ada tamu dari dinas, saya sodorin gergaji sama cutter. Memang benar-benar manual,” ujarnya sambil tersenyum.

Ke depan, Lili berharap adanya dukungan modal, bantuan peralatan, serta terutama wadah pemasaran yang berkelanjutan dari pemerintah. Menurutnya, UMKM kerajinan kerap terkendala akses pasar meski produknya berkualitas.

“Harapannya pemerintah bisa jadi wadah. Pengrajin fokus produksi, lalu produknya ditampung, dibayar, dan dipasarkan. Dengan begitu UMKM bisa terus berjalan,” harapnya.

Kisah Lili Sunarya menjadi bukti dengan ketekunan, kreativitas, dan pemanfaatan potensi alam mampu melahirkan peluang ekonomi. Dari bambu sederhana, lahir karya seni bernilai tinggi yang menggerakkan roda ekonomi kreatif sekaligus menginspirasi UMKM lainnya di Sukabumi. (*/Red)