Sebanyak 27 sekolah tingkat SLTP dan SLTA ambil bagian dalam Latgab ini. Para peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan materi kepalangmerahan, tetapi juga ditantang menunjukkan kemampuan mereka lewat berbagai perlombaan.
Acara pembukaan dihadiri oleh unsur Forkopimcam Surade, perwakilan PMI Kabupaten Sukabumi, Ketua PGRI Kecamatan Surade, kepala UPT/UPTD, kepala desa, serta tokoh masyarakat setempat.
Camat Surade, Usep Supelita, menyatakan bahwa kegiatan PMR memiliki nilai strategis dalam membentuk karakter generasi muda. Pengalaman selama Latgab dinilai dapat menjadi bekal penting dalam membangun kedisiplinan dan kepedulian sosial. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga keselamatan selama berkegiatan.
“Jaga keselamatan selama mengikuti kegiatan. Ikuti seluruh rangkaian dengan sebaik-baiknya dan manfaatkan momentum ini untuk menambah pengalaman serta keterampilan,” ujar Usep, Jumat (25/9/2026).
Senada dengan hal itu, Ahmad Fiqri yang mewakili Ketua PMI Kabupaten Sukabumi menuturkan, Latgab merupakan sarana krusial untuk meningkatkan kapasitas anggota PMR sebagai calon relawan masa depan.
“Kegiatan latihan gabungan PMR Wira dan Madya ini memang harus rutin dilakukan untuk meningkatkan kapasitas mereka sebagai relawan di lapangan nantinya,” kata Ahmad.
Ia berharap nilai-nilai kemanusiaan yang didapat peserta bisa langsung diterapkan mulai dari lingkungan terkecil.
“PMR diharapkan menjadi garda terdepan bagi kemanusiaan di wilayahnya masing-masing. Paling kecil tentu di keluarga, kemudian di sekolah, dan lingkungan masyarakat luas,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Latgab, Yosep Rustandi, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang dengan memadukan unsur pembelajaran, keterampilan, dan kreativitas. Selama tiga hari, peserta mengikuti workshop kepalangmerahan bersama pemateri dari PMI Kabupaten Sukabumi, yang kemudian diuji lewat kompetisi.
Panitia sendiri menyiapkan tujuh jenis perlombaan, meliputi Pertolongan Pertama (PP), Lomba Keterampilan Tanggap Darurat (LKTD), paduan suara, traveling, PMR Pintar, pentas seni, serta Mojang Jajaka (Moka).
“Kami berharap peserta tidak hanya mengejar prestasi, tetapi juga mendapatkan pengalaman berharga, membangun kekompakan, disiplin, serta memperkuat semangat kemanusiaan,” pungkas Yosep.
Melalui bekal pengalaman dan pembinaan intensif ini, para peserta diharapkan pulang membawa kapasitas baru yang siap diabdikan untuk menolong masyarakat yang membutuhkan di daerah asal mereka masing-masing. (*/Red)











