FOKUSMEDIANEWS.COM – Bagaikan pribahasa yang sering kita dengar, “hasil tidak akan mengkhianati usaha”, artinya siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan menuai hasilnya. Kerja keras, ketekunan, dan dedikasi akan membuahkan hasil yang setimpal, meski terkadang bukan dalam bentuk yang diharapkan, melainkan pengalaman berharga dalam kehidupan.
Seperti itulah perjalanan hidup Rapik Utama, pria kelahiran 28 Maret 1979, di Desa Sundawenang, Kecamatan Parungkuda, Kabupaten Sukabumi. Seorang wartawan yang mengawali karir kewartawanannya di kota “mochi” Sukabumi, pada bulan Mei 2016.
Pada awalnya, Rapik muda punya keinginan untuk bekerja di sektor formal lain, bukan sebagai wartawan. Karenanya dengan susah payah mencari pekerjaan, setiap ada lowongan kerja dia coba walau harus mengadu nasib. Namun pekerjaan yang diharapkan tak kunjung dia dapatkan. Akhirnya ia terseret pada pekerjaan yang tak pernah ada dalam pikirannya, yaitu sebagai wartawan.
Mulanya ia mendapat ajakan dari teman lamanya, Firman, yang bekerja disalah satu media cetak di Sukabumi bernama Media Pembahuran Rakyat Indonesia(MPRI).
“Ya, Firman waktu itu ngajak saya untuk bergabung dengannya, bekerja di media tempatnya berkarya. Bahkan saya masih ingat waktu itu, Selasa, tanggal 10 Mei 2016. Saya tidak langsung mengiyakan, karena bingung. Sebab saya merasa tidak punya keahlian dalam profesi kewartawanan waktu itu,” ujar pria jangkung tamatan Sekolah Teknik Menengah (STM) Jurusan Kelistrikan, sekarang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Ia lulus tahun 1998.
Setelah dapat ajakan (tawaran) jadi wartawan, Rapik mulai menimbang-nimbang dalam pikirannya. Kadang dihatinya muncul keraguan, apa iya harus jadi wartawan, dan apakah bisa menulis berita ? hatinya terus berkecamuk, antara ragu dan keinginan untuk mencoba. Namun temanya terus memberikan dukungan.
“Tenang lur, saya ajari menulis nanti, tiga hari saja saya jamin ente langsung bisa,” ucap temannya.
Kepada penulis yang mewawancarainya pada Sabtu (17/01/26), Rapik Utama bercerita, setelah terus mendapat dukungan temannya itu, ia mulai ada keinginan untuk belajar menjadi wartawan.
“Jujur saja, itu semata karena saya sudah bosan menganggur dan ingin punya pekerjaan,” ungkapnya.
Akhirnya, Rapik mengikuti proses pendidikan kilat tentang jurnalistik selama kurang dari seminggu. Banyak yang ia pelajari, mulai pemahaman tentang jurnalistik, dan lebih utama lagi bagaimana menulis berita sebagai dasar menjadi wartawan pemula.
“Saya belajar sungguh-sungguh, terus belajar menulis berita dan memahami lebih jauh tentang kewartawanan. Akhirnya tumbuh keberanian, kepercayaan dan keyakinan. Insya Allah, saya siap menjadi wartawan,” ucap pria yang dikenal teman-temannya dengan sebutan si Soleh, karena prilakunya yang santun.
Memang, penulis sendiri merasakan aura kebaikan kang Rapik, saat sesi wawancara. Ia sangat berhati-hati, dan selalu memilih kosa kota yang enak untuk didengar. Karakter dan prilakunya ramah, menyiratkan prinsip, mengutamakan persaudaraan. Satu lagi, ia selalu berpaikaian adat sunda yang melekat sebagai ciri khasnya.
Perjalanan karirnya sebagai wartawan terus berlanjut, bahkan sempat bergabung dengan forum kewartawanan lokal Sukabumi, yaitu Keluarga Organisasi Wartawan Sukabumi (KOWASI), hingga meduduki jabatan Humas pada tahun 2017.
Pada tahun 2018, Rapik Utama bergabung dengan media online tatarsukabumi.id. Saat bekerja di media tersebut, ia bahkan mendapat penghargaan sebagai wartawan teraktif memberitakan Pemerintah Kabupaten Sukabumi. Penghargaan itu langsung diberikan oleh Bupati Sukabumi (saat itu) H Marwah Hamami.
Rapik terbilang aktif di organisasi kewartawanan. Tahun 2024 ia mengundurkan diri dari KOWASI dan bergabung dengan organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dan terdaftar di PWI Kabupaten Sukabumi.
Untuk menjadi anggota PWI, Rapik mengikuti proses yang ditentukan organisasi. Diawali dengan calon anggota selama satu tahun, baru kemudian direkomendasikan untuk mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) yang diselenggarakan oleh PWI Jawa Barat. Setelah dinyatakan lulus dalam OKK tersebut baru memegang KTA PWI.
Tujuh tahun lamanya ia bergabung dengan media tatarsukabumi.id menambah kematangan sebagai seorang wartawan. Kemudian pada pertengahan tahun 2024, dirinya mengundurkan diri dari media tersebut. Alasannya, ingin mandiri, ingin belajar merintis media sendiri.
Akhirnya bersama teman serta saudaranya, Rapik mendirikan perusahaan media dengan nama mediaaksara.id. Dalam manajemen perusahaan tersbut, ia menduduki jabatan Chief Executive Officer (CEO), suatu jabatan tertinggi dalam hierarki eksekutif perusahaan atau pucuk pimpinan operasional perusahaan.
“Saya berharap, perusahaan media yang sedang dibangun ini akan terus tumbuh menjadi besar. Saya yakin jika kita sungguh-sungguh mengelolanya bisa terus berkembang. Walaupun kondisi media massa saat ini menghadapi tantangan besar, namun jika kita mampu menyusun strategi dengan baik, memiliki jaringan yang kuat, didorong dengan keyakinan dan kesungguhan, Insya Allah bisa survive. Dokan ya kang,” pungkas Rapik sumringah, dengan senyum penuh persahabatan. (AW)
Penulis : Aris Wanto





