Breaking News
Profil  

Jejak Seni Muhammad “Bob” Ichwan, dari Penyiar Radio ke Panggung Budaya

Muhammad Ichwan Muslimin akrab disapa Om Bob. (foto: Iyan Sopyan)

FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI – Pagi yang tenang kerap menjadi ruang terbaik untuk mengenang perjalanan panjang kehidupan.

Di antara kepulan aroma kopi hitam, kisah seorang seniman nyentrik bernama Muhammad Ichwan Muslimin akrab disapa Om Bob mengalir seperti gelombang suara yang tak pernah benar-benar hilang, hanya berpindah medium.

Perjalanan Om Bob bermula dari dunia seni pertunjukan. Pada rentang 1990 hingga 1993, ia aktif di Sanggar Seni Pilar, menapaki jalur sebagai praktisi seni. Panggung menjadi ruang ekspresi awal, tempat ia belajar memahami seni sebagai bahasa kehidupan, bukan sekadar tontonan.

Namun jalan hidup membawanya ke medium lain, ia kemudian aktif di dunia penyiaran radio. Tahun 1990, suara Om Bob mulai mengudara melalui Radio NBS (Nasional Buana Suara) hingga 1991.

Baca Juga :   Balada Kehidupan Asep "Avhes'" Solihin: Antara C'Kopi, Panggung Musik dan Jurnalistik

Dari balik mikrofon, ia menjalin kedekatan dengan pendengar, menyampaikan informasi, hiburan, dan nilai-nilai kemanusiaan melalui kekuatan suara.

Dunia siaran kemudian menjadi bagian penting dari hidupnya. Tahun 1992, Om Bob bergabung dengan Radio Sena, disusul Radio ARH Jakarta pada 1994. Ia kembali ke NBS pada 1995, sebelum melanjutkan perjalanan panjangnya di sejumlah stasiun radio lain: Skip FM (2000–2003), Radio Galaksi (2003–2005), Radio Mega Swara (2005–2007), hingga Radio SMS FM (2007–2010).

Lebih dari dua dekade berkarya di dunia penyiaran, Om Bob akhirnya memilih berhenti menjadi penyiar radio. Keputusan itu bukan akhir, melainkan perubahan arah. Pada periode 2010 hingga 2015, ia bergerak sebagai pelaku usaha di bidang Event Organizer (EO), mengelola berbagai kegiatan dengan sentuhan seni, manajemen, dan pengalaman lapangan yang matang.

Baca Juga :   Danendra, Mahasiswa dengan Segudang Prestasi

Namun panggilan jiwanya tetap satu, seni. Sejak 2015 hingga saat ini, Om Bob kembali memusatkan hidupnya sebagai pelaku seni. Baginya, seni bukan sekadar profesi, melainkan ruh yang menghidupkan keseharian.

“Seni bagi saya adalah ruh. Ia merupakan implementasi dari kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Seni yang kini ia kembangkan berfokus pada pertunjukan berbasis kearifan lokal.

Nilai-nilai tradisi, budaya, dan identitas masyarakat menjadi fondasi utama dalam setiap karya. Om Bob percaya, di tengah derasnya arus modernisasi, seni lokal harus tetap hidup, bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai kekuatan budaya yang relevan dengan zaman.

Baca Juga :   Tekad Hidup Mandiri, Dimas Bagi Waktu antara Kuliah dan Ojol

Dari gelombang radio hingga panggung budaya, perjalanan Om Bob adalah kisah tentang konsistensi, adaptasi, dan kesetiaan pada nilai.

Ia membuktikan bahwa medium boleh berganti, zaman boleh berubah, tetapi ruh seni akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Di usianya yang matang dalam berkarya, Om Bob tak hanya menjadi seniman, tetapi juga penjaga ingatan budaya, menghidupkan kembali nilai-nilai lokal agar terus berbicara kepada generasi hari ini dan esok. (IS)