FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI — Matahari belum terlalu tinggi di atas langit Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Ciguha. Bau khas getah pinus yang segar menyengat hidung, bercampur dengan aroma tanah basah. Di tengah rutinitas berat menggores kulit pohon pinus, puluhan penyadap getah mendapatkan kejutan hangat dari Perum Perhutani KPH Sukabumi pada Senin (18/05/2026).
Tempat Penampungan Getah (TPG) Ciguha, yang biasanya hanya dipenuhi karung-karung getah, hari itu berubah fungsi menjadi posko kesehatan darurat. Tanpa perlu menempuh jarak jauh ke klinik kota, para pejuang hutan ini bisa memeriksakan kondisi tubuh mereka secara gratis.
Bagi Dadang, seorang penyadap lokal, hari itu terasa berbeda. Tangannya yang kasar biasa memegang pisau sadap, kini berganti menerima tensimeter dari tim medis Puskesmas Nyalindung yang dipimpin oleh dr. Agnes.
“Kami sangat terbantu dengan adanya pemeriksaan kesehatan ini. Selain mengetahui kondisi kesehatan, kami juga merasa diperhatikan,” ujar Dadang dengan wajah semringah.
Harapannya sederhana, ia ingin program seperti ini terus berlanjut agar para pekerja di pelosok hutan tidak terlupakan.
Hadir langsung di lokasi, Asisten Perhutani (Asper) BKPH Cikawung, Asep Saripudin, ikut memantau jalannya pemeriksaan. Kehadiran manajemen di lapangan menjadi bukti bahwa keringat para penyadap sangat dihargai.
Di tempat terpisah, Administratur Perhutani KPH Sukabumi, Dedy S.J. Mulyadi, menegaskan bahwa kesejahteraan mitra kerja adalah fondasi utama keberhasilan Perhutani. Hubungan yang terjalin bukan lagi sekadar urusan bisnis bisnis, melainkan kemitraan yang berkelanjutan.
“Para penyadap merupakan mitra penting bagi Perhutani. Kami tidak hanya fokus pada hasil produksi, tetapi juga memperhatikan kesehatan dan kesejahteraan mereka,” tegas Dedy.
Langkah nyata ini membawa pesan kuat: di balik setiap tetes getah pinus yang bernilai tinggi, ada kesehatan para penyadap yang harus tetap dijaga agar roda produktivitas hutan Sukabumi terus berputar sehat. (*/Dien)











