FOKUSMEDIANEWS.COM, BOGOR – 17 Juni 2025 – Asisten Deputi Pemberdayaan Sosial Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Republik Indonesia, Ema Widiati, menekankan bahwa pembangunan keluarga yang tangguh dan mandiri merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan pembangunan nasional.
Hal itu disampaikannya pada kegiatan Training of Trainer (ToT) Sekolah Keluarga Berkualitas (SKB) tahun 2025, yang diselenggarakan oleh Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim bekerja sama dengan Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University. Kegiatan yang diikuti oleh enam desa/kelurahan lingkar kampus IPB (Bubulak, Gunung Batu, Sindang Barang, Petir, Sinarsari, dan Tegalwaru) secara luring, Sementara fasilitator dari berbagai provinsi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Lampung, NTB, Aceh, hingga Papua Tengah mengikuti kegitan secara daring.
“Keluarga bukan hanya tempat berlindung secara fisik, tetapi juga pusat pembelajaran nilai, pusat produksi, dan tempat tumbuhnya generasi masa depan. Oleh karena itu, pemberdayaan keluarga, terutama peran perempuan di dalamnya, memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan,” ujar Ema, dalam pemaparannya yang bertajuk Mewujudkan Kemandirian Keluarga Lewat Pemberdayaan Keluarga.
Kemiskinan yang dihadapi oleh keluarga Indonesia saat ini tidak semata-mata disebabkan oleh faktor ekonomi, tetapi juga mencakup dimensi kesehatan, pendidikan, keterampilan, infrastruktur, dan akses terhadap layanan dasar. Menurutnya, pendekatan holistik dalam pemberdayaan keluarga menjadi penting untuk memutus mata rantai kemiskinan antar-generasi.
“Perempuan yang berdaya dalam keluarga memiliki peran strategis dalam meningkatkan akses pendidikan bagi anak, meningkatkan kesehatan keluarga, serta mendorong pengambilan keputusan yang lebih inklusif dan partisipatif di tingkat rumah tangga,” tambahnya.

Kegiatan ToT SKB hari kedua berlangsung dengan penuh antusiasme dari para peserta. Diskusi berlangsung aktif, ditandai dengan banyaknya pertanyaan dan cerita lapangan yang disampaikan oleh para fasilitator, baik secara luring maupun daring. Mereka berbagi tantangan yang dihadapi di masyarakat, seperti rendahnya partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi, keterbatasan informasi terkait pengasuhan anak, hingga kesenjangan akses layanan sosial.
Para fasilitator diharapkan tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga memiliki keterampilan praktis untuk menyampaikannya kembali kepada keluarga binaan di wilayah masing-masing. Harapannya, pengetahuan dan wawasan yang diperoleh dapat ditransformasikan menjadi aksi nyata yang memperkuat ketahanan dan kemandirian keluarga. (*/Red)











