Catatan IMAM WAHYUDI
BERBANGGALAH mereka yang berprofesi jurnalis. Kerap disebut sebagai wartawan atau pewarta. Profesi dalam arti bermartabat dan berintegritas, yang selalu disematkan.
Betapa “sakral” frasa “bermartabat dan berintegritas”. Bahkan diputar ulang lewat pesan agenda Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (Konferprov PWI) Jawa Barat 2026. Lantas, apa singgungan antarkeduanya?
Tentu, dimaksudkan sebagai peringatan dini (early warning). Pesan tersirat, hendaknya agenda suksesi kepemimpinan PWI Jabar berlangsung secara patut. Proses berdemokrasi bersandar pada dedikasi, prestasi dan transparansi.
Frasa “berbanggalah” menjadi intro catatan ringan (caring) ini, dalam arti bersyukur berprofesi wartawan. Bahkan terbilang “istimewa”. Diposisikan unggul dibandingkan profesi lain pada umumnya.
Wartawan (baca: Pers) adalah pilar keempat dalam sistem demokrasi. Urutan dari Trias Politica yang dipopulerkan Montesquieu, ahli hukum Prancis (1689 – 1755). Tiga pilar utama itu: eksekutif, legislatif dan yudikatif. Pilar yang menegaskan posisi strategis wartawan (media massa -pen) sebagai pengawas independen.
Itu sebab, bermartabat dan berintegritas menjadi bagian integral profesi wartawan. Komitmen bersama yang layak dihormati serta senantiasa konsisten dalam nilai, ucap, norma dan etika berjurnalistik.
Tak semata sebagai alat kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah dan mencegah penyalahgunaan kekuasaan. Ia berperan menyampaikan berita yang benar, akurat, dan objektif. Dalam hal pilar tadi, menjaga keseimbangan kekuasaan — agar tidak timpang atau korup — melalui kritik konstruktif.
**
DI sisi ini, sekelumit yang sudah dimaklumi di atas menjadi benang merah dengan Konferprov PWI Jawa Barat 2026. Tradisi suksesi kepemimpinan PWI Jawa Barat yang akan digelar di Hotel Horison Bandung, 12 – 13 Agustus pekan depan.
Tradisi yang hendaknya memberi arti maknawi bagi insan pers di jagat Parahyangan. Tak sebatas proses persidangan hingga lahir formatur untuk pengurus anyar. Pada bait pertama, Konferprov PWI Jabar 2026 sudah wanti-wanti. Memajang tema “Merawat Profesionalisme Menuju Pers Berintegritas dan Bermartabat”.
Tema itu sebagai peringatan dini bagi setiap individu peserta yang konon mencapai lebih 600 orang. Melaksanakan secara bertanggungjawab dalam setiap proses pengambilan keputusan.
Konferprov PWI Jabar 2026, hakikatnya manifestasi berdemokrasi. Demokrasi yang ogah dikebiri, demokrasi tanpa transaksi. Hendaknya pula, demokrasi demi suksesi bagi olah prestasi kepemimpinan organisasi profesi ini.
Penulis tergerak untuk mendorong proses suksesi berlaku seirama tema. Tak seharusnya semata penghias bibir atau basa-basi, serupa lip service. Hendaknya menjauh dari kekhawatiran manipulasi berdemokrasi yang berpotensi membuat forum terhormat tercela.
Pretensi demokrasi negatif yang setara money politic. Jangan! Politik uang yang akan membuat awak organisasi menggigil dalam waktu lama. Praktis berdampak pada organisasi yang kelak minor kepercayaan alias distrust. Potensi tak terpuji, sejatinya bak “menggali kubur sendiri”. Alih-alih menghasilkan kepemimpinan yang terbaik dan amanah, malah sebaliknya.
Cukuplah, dinamika itu ditengarai mewarnai Kongres PWI sebelum ini. Potret yang mesti dibingkai “tak boleh terulang lagi”. Tak boleh pula terjadi di lorong sepi di antara panggung Konferprov PWI Jabar 2026. Wadah insan pers senantiasa garda terdepan, pengawal demokrasi seutuhnya dan berkeadilan.
“Setiap orang ada masanya, setiap masa ada orangnya,” kalimat bijak yang menuntun jalan. Berorganisasi secara baik dan benar. Peralihan kepemimpinan adalah keniscayaan. Pasti terjadi. Adalah harapan untuk menjawab tantangan zaman.
Tantangan terhadap independensi wartawan di tengah arus deras media sosial digital. Mencakup kecepatan, budaya klik hingga potensi arus informasi tanpa konfirmasi. Nah, kita awali saja — berdemokrasi nan hakiki menuju suksesi sejati. Cag..!! *
Penulis: Jurnalis senior, anggota PWI











