FOKUSMEDIANEWS.COM, BEKASI – Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) perwakilan Kabupaten Bekasi menyalurkan bantuan 300 paket sembako untuk korban banjir di tiga desa wilayah Bekasi Utara, Sabtu (24/1/2026). Bantuan yang diserahkan, lanjutnya, yakni berupa nasi bungkus, paket mie, roti, susu, dan sembako.
“Bantuan paket sembako ini wujud kepedulian dari kami (SMSI) dengan menggandeng kawan-kawan ormas dan LSM agar empati terhadap musibah banjir akibat intensitas hujan yang tinggi sejak awal 2026,” ujar ketua SMSI Kabupaten Bekasi, Doni Ardon di sela-sela kegiatan.
Dalam kegiatan sosial tersebut, tampak hadir Ketua Umum Aliansi Ormas Bekasi HM Zaenal Abidin, pengurus ormas Pejuang Siliwangi Indonesia, Ajid, ketua LSM FAST, Istioko, ketua umum Srikandi AOB, Hj Cici Zaenal dan pimpinan Den Sakti H. Saeful Nyamat.
Turut mengawal kegiatan dari awal kegiatan hingga selesai, yakni Kapolsek Tambun Kompol Wuryanti, Babinsa Srijaya Irwanto dan Bhabinkamtibmas wilayah setempat.
“Alhamdulillah hari ini SMSI Kabupaten Bekasi dapat menyalurkan secara langsung bantuan paket sembako kepada warga yang terdampak banjir di Kecamatan Tambun Utara,” kata Doni Ardon.
Ketiga desa yang mendapat bantuan, yakni Desa Srimukti, Desa Sriamur dan Desa Srijaya.
Doni Ardon mengatakan bahwa selain menyalurkan bantuan paket sembako di wilayah Tambun Utara, SMSI bersama Aliansi Ormas Bekasi juga menyalurkan bantuan paket sembako terhadap korban banjir di wilayah Tambun Selatan, Cibitung, Cikarang Barat, Cikarang Timur dan Kedungwaringin.
“Semoga dapat meringankan beban dan penderitaan masyarakat yang terkena musibah banjir,” ucapnya.
SMSI Kabupaten Bekasi, lanjut Doni Ardon, tidak sekedar menyalurkan bantuan paket sembako kepada korban banjir, tetapi juga mengedukasi masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai dan menjaga lingkungan agar tetap bersih.
“SMSI Kabupaten Bekasi menghimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah di sungai karena dapat menyumbat saluran air dan menyebabkan air meluap ketika hujan,” himbaunya.
Membuang sampah ke sungai, tambah Doni Ardon, juga menyebabkan air tercemar bakteri penyebab diare, kolera, dan gatal-gatal serta merusak ekosistem. “Ikan, serangga dan tumbuhan air yang mati di sungai akan terurai menjadi mikroplastik, ini berbahaya bagi manusia,” pungkasnya. (*)











