FOKUSMEDIANEWS. COM, SUKABUMI – Peringatan Hari Tani Nasional 2026 di Kabupaten Sukabumi digelar dengan cara yang tidak biasa. Ratusan petani bersama lintas elemen masyarakat berkumpul di Inna Samudera Beach Hotel, Palabuhanratu, Selasa (23/9), untuk menyuarakan ketahanan pangan sekalgus kemandirian energi lewat gerakan bertajuk “September Bercahaya”.
Kegiatan yang digagas oleh Komite Nasional Pergerakan Ketahanan Energi dan Pangan Indonesia ini berhasil memadukan tiga esensi penting: aksi spiritual lewat ritual budaya, diskusi taktis percepatan infrastruktur listrik desa, serta pengawalan kritis terhadap implementasi regulasi pertanahan.
Menuju ‘Jabar Caang’: Integrasi Energi dan Sektor Pertanian
Kedaulatan pangan hari ini tidak lagi bisa dilepaskan dari modernisasi dan ketersediaan energi. Melalui FGD bertema “Pemberdayaan Masyarakat Petani, Mengawal Jaringan Infrastruktur Listrik untuk Jabar Caang”, para petani mendorong percepatan pembangunan jaringan listrik ke kawasan produktif.
Mewakili Presidium Komite Nasional, A. Ginanjar Akil, menyampaikan bahwa sawah dan ladang adalah urat nadi masa depan daerah, sehingga dukungan infrastruktur yang memadai sudah krusial untuk diperkuat.
Hadirnya perwakilan PLN UPP JBT-1 dalam forum ini menjadi angin segar untuk melahirkan langkah konkret dan rekomendasi strategis, agar modernisasi pertanian di pelosok Sukabumi segera terwujud lewat pasokan energi yang stabil.

Warning Reforma Agraria: Jangan Terjebak Euforia Hukum
Di sisi lain, forum ini juga menyoroti pengesahan UU Reforma Agraria yang baru saja diketuk. Meski membawa harapan baru bagi penataan ketimpangan lahan, petani Sukabumi diingatkan keras untuk tidak terjebak dalam formalitas hukum di atas kertas.
Sekjen Komite Nasional sekaligus moderator FGD, Aam Abdul Salam, menegaskan bahwa perjuangan petani sesungguhnya baru saja dimulai.
“Keberhasilan reforma agraria tidak ditentukan di ruang sidang Senayan, melainkan di garis depan pengelolaan lahan bagi para petani,” tegas Aam.
Ia mendesak organisasi tani, masyarakat adat, dan elemen sipil untuk memperketat pengawasan publik. Mereka harus terlibat aktif dalam mengusulkan Lokasi Prioritas Reforma Agraria (LPRA) serta memantau lembaga penyelenggara agar regulasi ini benar-benar menuntaskan momok sengketa lahan yang selama ini menjerat warga.
Ritual Budaya dan Spirit Persatuan Nasional
Uniknya, pembahasan isu-isu berat terkait energi dan hukum agraria tersebut dibalut dengan nuansa spiritual yang kental. Acara ini ditutup dengan ritual budaya dan doa bersama untuk kemandirian bangsa.
Kehadiran elemen yang sangat beragam—mulai dari Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial (Gema PS), Dewan Tani Indonesia (DTI) Sukabumi, jurnalis Sinergi Media Merah Putih, hingga lantunan doa dari Majelis Sholawat Cahaya Nusantara—menjadi simbol solidnya persatuan nasional dari akar rumput.
Melalui kolaborasi gagasan intelektual dan kekayaan budaya ini, petani Sukabumi berharap momentum Hari Tani Nasional tahun ini menjadi titik balik bagi peningkatan kesejahteraan nyata dan penuntasan persoalan lahan di Indonesia. (**/Red)





