Editorial
FOKUSMEDIANEWS.COM, SUKABUMI – Lampu panggung boleh saja padam, namun pijar harapan baru saja menyala di hati para penikmat musik Sukabumi. Terambyar Fest 2026 telah usai melaksanakan tugasnya, meninggalkan jejak manis bagi pertumbuhan ekonomi kreatif kota.
Kehadiran ribuan anak muda yang penuh antusiasme menjadi sinyal kuat bahwa Sukabumi adalah tanah subur bagi seni pertunjukan. Momentum lahirnya energi baru, membuktikan bahwa keterbatasan hanyalah ruang untuk inovasi yang lebih tinggi. Kita tidak hanya sedang merayakan musik, kita sedang merayakan bangkitnya potensi kreatif Sukabumi yang siap menggebrak panggung nasional.
Gelaran Terambyar Fest bukan sekadar panggung hura-hura; ia adalah sinyal kuat bahwa energi kreatif di Sukabumi tengah meledak. Namun, di balik riuh rendah musik dan lautan penonton, tersimpan sebuah pertanyaan besar: Akankah momentum ini hanya menjadi letupan sesaat, atau menjadi awal mula bangkitnya industri hiburan yang profesional?
Peluang emas ini tidak bisa dibiarkan tumbuh liar sendirian di tangan para pelaku kreatif. Dibutuhkan kehadiran negara. Pemerintah daerah sudah saatnya menanggalkan peran sebagai penonton dan mulai bergerak menjadi regulator, fasilitator, sekaligus katalisator yang nyata.
Bukan Sekadar Wacana, Bukan Lapangan Becek
Sudah saatnya Sukabumi memiliki infrastruktur representatif. Menonton konser di lapangan becek bukan lagi standar yang bisa ditoleransi. Pengadaan ruang publik atau gedung pertunjukan permanen harus segera dimatangkan. Alasan efisiensi anggaran tak boleh lagi jadi tameng untuk menunda pembangunan fisik maupun digital yang mendukung ekosistem ini.
Lebih jauh, penggunaan lapangan sepak bola untuk konser musik sejatinya adalah ironi yang harus diakhiri demi menjaga kualitas fasilitas olahraga itu sendiri. Sukabumi butuh ruang khusus yang nyaman dan bermartabat bagi penikmat seni.
Hapus Budaya “Jatah”, Bangun Gerakan Bersama
Transformasi ini harus dimulai dari keinginan kuat untuk berbenah secara kolektif. Gerakan perjuangan ini harus fokus dan steril dari kepentingan pribadi maupun golongan. Sangat ironis jika di tengah semangat membangun, masih terdengar kabar miring tentang oknum yang seharusnya membina, justru “memalak” penyelenggara acara (Event Organizer) demi jatah sesaat. Praktik parasit seperti ini adalah racun yang membunuh kreativitas.
Mari kita sambut energi baru ini dengan kepala tegak. Sukabumi memiliki segala potensi dan sumber daya untuk menjadi kiblat baru pementasan musik di Jawa Barat. Sekarang, tinggal sejauh mana nyali dan fokus kita untuk memperjuangkan wacana besar ini menjadi kenyataan yang membanggakan.
Saatnya Sukabumi naik kelas. Bukan hanya soal musiknya yang ambyar, tapi industri kreatifnya yang bersinar. (Redaksi)

